top of page
  • Gambar penulisRedaksi Media Gempa

Kepongahan Intelektual Peneliti BRIN Karena Abai Pada Etik Profetik




MEDIAGEMPAINDONESIA.COM Akibat nyinyir yang tidak perlu dilakukan, Prof. Thomas Djamaluddin harus menanggung malu mempertanggungjawabkan sikapnya yang pongah itu. Bagi masyarakat umum, kenyinyiran yang tidak patut itu bisa dijadikan acuan, bahwa pintar saja tidak cukup bila tidak disertai sikap bijak, ugahari dan toleransi.


Mengritik Muhammadiyah karena menetapkan hari raya Idul Fitri 1444 Hijriyah tidak sama dengan apa yang ditetapkan pemerintah, itu merupakan pilihan keyakinan yang sesungguhnya tak perlu diintervensi oleh pihak mana pun.


Realitasnya, Muhammadiyah menetapkan hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriyah pada hari Jum'at 21 April 2023, sementara pemerintah menetapkan hari Raya Idul Fitri 1444 H pada hari Sabtu, 22 April 2023 tidak ada masalah. Warga masyarakat Muslim pun, berhak memilih sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya, hari Jum'at atau hari Sabtu. Bahkan organisasi Muhammadiyah pun tidak berhak memaksakan umatnya untuk berlebaran pada hari Jum'at. Organisasi Muhammadiyah sangat bijak untuk umat mengikuti keputusan organisasi tanpa harus nyinyir. Jika pun Muhammadiyah keliru menetapkan hari Raya Idul Fitri pada hari Jum'at, toh dosanya tetap akan ditanggung sendiri di akhirat sana.


Komentar nyinyir Prof. Thomas Djamaluddin, selaku Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) yang tidak bijak itu justru dilontarkan lewat media sosial resmi BRIN hingga menjadi konsumsi publik.


Sikap Prof. Thomas Djamaluddin yang nyinyir dan sangat tidak bijak itu, justru dianggap banyak pihak tidak bermutu, mengingat gelar dan pekerjaannya yang hebat sebagai periset yang senantiasa pasti berkutat pada masalah yang ilmiah dan keilmuan serta intelektual yang mumpuni, meski tidak bijak dan pongah dengan mengabaikan etik profetik.


Artinya, tuntunan dan ajaran para Nabi -- yang diamalkan oleh semua penganut agama Samawi -- tidak dipatuhi. Akibatnya sikap sombong dan pongah yang mengedepankan akal -- bukan spiritual -- jadi menjerat dirinya yang tak ugahari.


Pernyataan Prof. Thomas Djamaluddin yang mengatakan, "Ya, sudah tidak taat keputusan pemerintah, eh masih minta difasilitasi tempat sholat Id. Pemerintah pun memberikan fasilitas", kata Thomas Djamaluddin lewat media sosial BRIN itu.


Nah, pernyataan nyinyir Thomas Djamaluddin inilah yang kemudian dikomentari pula oleh Andi Pangerang Hasanuddin yang lebih konyol. Peneliti muda BRIN inilah yang kemudian mengeluarkan ancaman hendak membunuh semua warga Muhammadiyah. "Perlu saya halalkan gak nih darahnya semua warga Muhammadiyah", katanya sambil memfitnah Muhammadiyah yang disusupi Hizbut Tahrir melalui agenda kalender global dari Gema Pembebasan, katanya seakan sudah pernah membunuh banyak orang.


Bahkan, Andi Pangerang Hasanuddin juga menuding orang Muhammadiyah itu banyak bacot.


Seusai mengancam hendak membunuh satu-satu warga Muhammadiyah, dia mempersilakan untuk melaporkan komentarnya yang mengancam itu kepada yang berwajib. Dia pun menyatakan siap dipenjara.


Kepongahan intelektual yang abai pada muatan nilai-nilai spiritual yang sarat dengan etik profetik, patut dijadikan pelajaran serta catatan pengingat bahwa intelektual seseorang itu harus senantiasa merunduk dan patuh pada arahan dan tuntunan spiritual yang dibisikkan dari langit.


Jadi betapa buruk dan bobroknya mental dan moral para intekektual yang dipelihara oleh BRIN. Karena itu, BRIN pun perlu discrening ulang. Apakah memang segitu kualitas moral dan mental para peneliti BRIN yang diharap bisa merumuskan kebijajan-kebijakan bermutu untuk menjadi panduan dan tuntunab bagi segenap warga bangsa Indonesia yang sudah mengongkosi semua pekerjaan yang wajib dan harus dilakukan oleh lembaga yang sepatutnya sangat bergengsi ini ?


Mgi/Ridwan Umar

6 tampilan0 komentar

Comments


bottom of page