MENANTI AIR DI TENGAH BADAI KEGELISAHAN – PEGAWAI PENGAIRAN POMPENGAN JENEBERANG BERKUMPUL
- Ridwan Umar
- 15 Jan
- 2 menit membaca

MENANTI AIR DI TENGAH BADAI KEGELISAHAN – PEGAWAI PENGAIRAN POMPENGAN JENEBERANG BERKUMPUL
Jeneponto — Suasana tegang dan penuh penantian menyelimuti kawasan pembagian air Paitana, Kabupaten Jeneponto, pada hari ini. Sejak pagi, puluhan pegawai pengairan di bawah Balai Pompengan Jeneberang terlihat berkumpul dan bersiaga, menanti kabar mengalirnya air yang disebut-sebut akan dibuka hari ini.
Ironisnya, di tengah tugas berat dan tanggung jawab besar yang mereka emban, nasib para pegawai pengairan ini seolah tak pernah mendapat perhatian serius.
Status pengangkatan yang tak kunjung jelas, kesejahteraan yang terabaikan, hingga minimnya perlindungan kerja, tak menyurutkan semangat mereka. Dengan penuh dedikasi, para pegawai tetap antusias melaksanakan tugas demi kepentingan petani dan masyarakat luas.
Namun, persoalan besar justru mencuat di lapangan. Pintu air yang menjadi kunci utama distribusi air diketahui belum juga diperbaiki, padahal masa pengerjaan oleh pihak kontraktor telah melewati batas waktu yang ditentukan. Hingga hari ini, tak tampak aktivitas perbaikan yang berarti.
Lebih memprihatinkan lagi, pihak Pompengan Jeneberang memilih bungkam. Tidak ada penjelasan resmi, tidak ada klarifikasi terbuka:
Ada apa antara kontraktor dan pihak Pompengan?
Pertanyaan ini menggelinding liar di tengah masyarakat dan para petugas lapangan yang setiap hari berjibaku dengan kondisi serba terbatas.
Di saat ketidakpastian memuncak dan kepercayaan publik mulai terkikis, barulah harapan itu terjawab. Air yang ditunggu-tunggu akhirnya mengalir sekitar pukul 14.00 WIB, disambut lega oleh para pegawai pengairan dan warga yang sejak lama menggantungkan hidup dari aliran tersebut.
Meski air akhirnya mengalir, masalah belum selesai. Keterlambatan perbaikan, lemahnya pengawasan kontraktor, serta sikap diam para pemangku kebijakan menjadi catatan merah yang tak bisa dihapus begitu saja.
Masyarakat kini menuntut transparansi, tanggung jawab, dan keberpihakan nyata—bukan hanya kepada proyek dan anggaran, tetapi juga kepada para pegawai pengairan yang selama ini setia bekerja dalam senyap, tanpa kepastian, tanpa perhatian, namun tetap mengabdi.
Jika air adalah sumber kehidupan, maka keadilan bagi para penjaganya adalah keharusan. Pemerintah dan instansi terkait diminta jangan lagi menutup mata.
( Mgi/Guss mahfuji )

















































