Ketua DPP LSM Gempa Indonesia: Demi Menjaga Siri' na Pacce, Bupati Gowa Husniah Talenrang Sebaiknya Mundur dari Jabatannya
- Ridwan Umar
- 11 menit yang lalu
- 2 menit membaca

Ketua DPP LSM Gempa Indonesia: Demi Menjaga Siri' na Pacce, Bupati Gowa Husniah Talenrang Sebaiknya Mundur dari Jabatannya
Makassar – Ketua DPP LSM Gempa Indonesia, Amiruddin, SH Karaeng Tinggi, menyampaikan keprihatinannya atas polemik yang mencuat dalam proses hak angket DPRD Kabupaten Gowa yang turut menyinggung dugaan hubungan pribadi antara Bupati Gowa, Husniah Talenrang, dengan Basri Kajang.
Menurut Amiruddin, masyarakat adat Gowa sejak dahulu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Siri' na Pacce, yaitu budaya kehormatan, rasa malu, harga diri, kejujuran, dan tanggung jawab moral. Nilai-nilai tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dijaga oleh setiap orang, terlebih oleh seorang kepala daerah yang menjadi teladan bagi masyarakat.
"Siri' na Pacce bukan sekadar semboyan, tetapi merupakan kehormatan hidup masyarakat Gowa. Ketika seorang pemimpin diterpa dugaan perbuatan yang dinilai mencederai nilai moral, maka kepercayaan publik ikut dipertaruhkan. Jabatan adalah amanah, sedangkan kehormatan adalah warisan yang tidak ternilai."
BACA JUGA :



Amiruddin menyatakan bahwa berbagai keterangan yang muncul dalam sidang hak angket DPRD Kabupaten Gowa telah menimbulkan perhatian publik. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui mekanisme hukum yang berlaku dan setiap pihak berhak atas asas praduga tak bersalah.
Meski demikian, menurutnya, dari sisi etika pemerintahan dan moral publik, seorang kepala daerah seharusnya mempertimbangkan langkah mengundurkan diri apabila telah kehilangan kepercayaan masyarakat.
"Seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kekuatan mempertahankan jabatan, tetapi dari keberanian menjaga martabat. Mundur demi menjaga kehormatan institusi dan masyarakat justru merupakan sikap yang terhormat apabila kepercayaan publik telah runtuh."

Amiruddin juga mengingatkan bahwa keluarga besar Gowa memiliki sejarah panjang sebagai pewaris budaya Kerajaan Gowa yang menjunjung tinggi kehormatan. Oleh karena itu, menurutnya, setiap pemimpin yang berasal dari lingkungan tersebut memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk menjaga nama baik keluarga, masyarakat, dan daerah kabupaten gowa.
Terkait dugaan bahwa rumah jabatan digunakan untuk aktivitas minum minuman alkohol,main kartu,karokean dan diduga untuk bersenang senang sepasang kekasih yang tidak semestinya terjadi, Amiruddin menilai apabila tuduhan tersebut terbukti melalui proses hukum yang sah, maka hal itu merupakan persoalan serius karena rumah jabatan adalah fasilitas negara yang seharusnya digunakan untuk kepentingan pemerintahan.
Ia juga menyampaikan bahwa tuduhan mengenai dugaan perselingkuhan maupun keberadaan seseorang di rumah jabatan harus disikapi berdasarkan fakta yang dapat dibuktikan melalui proses persidangan hak angket DPRD Gowa bukan semata-mata berdasarkan opini.

Amiruddin mengajak seluruh masyarakat Gowa untuk tetap menjaga nilai-nilai Siri' na Pacce, menghormati proses hukum, serta mengedepankan etika dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
"Jabatan dapat berakhir kapan saja, tetapi nama baik dan kehormatan akan dikenang sepanjang masa. Seorang pemimpin yang menghormati Siri' na Pacce akan menempatkan kehormatan rakyat di atas kepentingan jabatan." tutup Amiruddin.
(Mgi / Ridwan Djaga)


















































Komentar