Krusial! Distribusi Air saluran Sungai Kelara Dinilai Tak Efektif, masyarakat pemakai air sungai kelara Didesak Evaluasi Kebijakan Sistem Bergilir .

Krusial! Distribusi Air saluran Sungai Kelara Dinilai Tak Efektif, masyarakat pemakai air sungai kelara Didesak Evaluasi Kebijakan Sistem Bergilir .
JENEPONTO — Kebijakan pembagian aliran Sungai Kelara yang menerapkan sistem gilir air selama beberapa pekan terakhir menuai sorotan tajam dari sebagian besar masyarakat petani. Mekanisme yang berawal dengan niat pemerataan tersebut dinilai justru tidak efektif dan memicu ancaman krisis kekeringan secara masif di sektor pertanian setempat.
Kondisi di lapangan menunjukkan ketimpangan yang signifikan. Sebagian area persawahan yang lokasinya relatif dekat dengan bantaran saluran Sungai Kelara kerap kali tidak mendapatkan jatah air yang optimal. Dampak dari sistem bergilir ini dirasakan kian ironis: bukan keadilan air yang didapat,

melainkan giliran kekeringan yang melanda lahan sawah warga.
Mendorong Evaluasi Kebijakan dan Langkah Konkret.
Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, masyarakat tani mengimbau secara terbuka kepada Pemerintah yg berwenang di Kabupaten (Pemkab) Jeneponto—khususnya Kepala Bidang (Kabid) terkait beserta Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) / —untuk tidak tinggal diam.
Point Urgen Demikian Aspirasi Petani:
Turun Lapangan Segera: Dinas terkait didesak melakukan peninjauan langsung (sidak) guna melihat secara riil tata kelola dan efisiensi debit air di sepanjang aliran Sungai Kelara.

Evaluasi Mekanisme Pembagian Air: Kebijakan gilir air perlu dikaji ulang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan analisis teknis debit air, kontur lahan, dan jarak pemukiman/persawahan.
Formulasi Solusi Berkelanjutan: Diperlukan regulasi dan pengawasan ketat agar tidak ada pihak yang dirugikan, serta memastikan aliran air terdistribusi secara adil, presisi, dan terukur.
Menjaga Ketahanan Pangan Daerah
Sungai Kelara merupakan urat nadi pertanian di Jeneponto. Jika pengelolaan regulasi air tidak segera direkonstruksi, risiko gagal panen secara beruntun mengancam mata pencaharian para petani dan stabilitas pangan daerah.

Masyarakat berharap Pemkab Jeneponto bergerak cepat, responsif, dan adaptif dalam mengambil langkah taktis. Evaluasi kebijakan distribusi air Sungai Kelara bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan yang mendesak demi menyelamatkan lahan persawahan warga dari ancaman kekeringan berkepanjangan.
(MGI/Guss Mahhfuji)


















































Komentar