PARADOKS DINAMIKA PARTISIPASI WARGA DALAM PERINGATAN HUT KE-81 RI DI KECAMATAN TURATEA
- Ridwan Umar
- 8 menit yang lalu
- 2 menit membaca

PARADOKS DINAMIKA PARTISIPASI WARGA DALAM PERINGATAN HUT KE-81 RI DI KECAMATAN TURATEA
PAITANA, GOWA — Semangat nasionalisme dan dinamika sosial masyarakat berpadu dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Desa Paitana, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto.
Ditengah sengatan terik matahari yang menyengat, perlombaan gerak jalan tetap berlangsung penuh khidmat dan memancarkan daya juang tinggi dari para peserta muda.
Meski demikian, pelaksanaan perayaan tahun ini menyimpan catatan evaluatif yang tajam terkait tingkat partisipasi publik dan representasi elemen masyarakat secara komprehensif.
Dominasi Pelajar di Tengah Penurunan Partisipasi: Perlombaan gerak jalan tahun ini dimeriahkan oleh 50 barisan yang didominasi oleh institusi pendidikan, mencakup tingkat SD (26 barisan), SMP/Mts, hingga SMA sederajat, lengkap dengan atraksi marching band dari berbagai sekolah se-Kecamatan Turatea.

Kendati demikian, terjadi penurunan partisipasi secara signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Ketidakhadiran barisan dari elemen kunci seperti Organisasi Tim Penggerak PKK, anggota PGRI, organisasi kemasyarakatan, serta tokoh publik lokal menjadi sorotan dalam peta dinamika sosial perayaan tahun ini.
Presensi Kewilayahan: Laporan resmi mengindikasikan ketimpangan kehadiran dalam upacara peringatan. Dari total 11 desa yang berada di wilayah administratif Kecamatan Turatea, hanya 8 desa yang mengutus perwakilannya secara resmi untuk hadir dalam rangkaian upacara kemerdekaan.
Sinergi Pengamanan dan Pengawasan: Pelepasan barisan gerak jalan dipimpin secara resmi oleh Ketua Panitia Pelaksana, Saharuddin. Mengingat vitalnya ketertiban umum, jajaran Aparat Penegak Hukum (APH) dan TNI—termasuk Kanit Reskrim Polsek Binamu, Kanit Intel, Bhabinkamtibmas, serta Babinsa Desa Paitana—turut mengawal ketat jalannya rute perlombaan hingga menghadiri Upacara
Penurunan Bendera Merah Putih pada sore harinya.
Perspektif Analitis dan Refleksi Sosial
Fenomena penurunan partisipasi dari elemen non-sekolah ini menghadirkan diskursus intelektual mengenai pergeseran pola partisipasi kewargaan (civic engagement) di tingkat lokal.
Dominasi generasi muda dari institusi sekolah menunjukkan bahwa fungsi transmisi nilai-nilai patriotisme dan pembentukan karakter bangsa melalui jalur pendidikan formal masih berjalan efektif dan solid.
Namun, di sisi lain, minimnya keterlibatan organisasi kemasyarakatan dan aparat desa dalam ajang perayaan bersama ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah.
Diperlukan evaluasi mendalam terkait strategi konsolidasi sosial dan komunikasi publik, agar momentum peringatan kemerdekaan di masa mendatang tidak sekadar menjadi agenda rutin persekolahan, melainkan kembali menjadi perayaan inklusif yang menyatukan seluruh strata masyarakat
( Mgi/Guss mahfuji )


















































Komentar