top of page

Kasus Pemisahan Pasangan Silariang di Biringbulu: “Cinta Tidak Boleh Dipisahkan Karena Kemiskinan”

  • Gambar penulis: Ridwan Umar
    Ridwan Umar
  • 30 Apr
  • 2 menit membaca

Kasus Pemisahan Pasangan Silariang di Biringbulu: “Cinta Tidak Boleh Dipisahkan Karena Kemiskinan”



Gowa, --  Amiruddin SH.Kareng Tinggi ,menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa sepasang muda-mudi di Dusun Binaarung, Desa Berutallasa, Kecamatan Biringbulu, yang harus mengalami pahitnya cinta karena dipisahkan oleh restu orang tua.



Pasangan muda yang disamarkan namanya sebagai Aman dan Bunga, diketahui menjalin hubungan asmara yang serius hingga akhirnya memilih silariang atau kawin lari karena hubungan mereka tidak direstui pihak keluarga perempuan.



Menurut informasi yang diterima, keluarga Aman sebenarnya datang dengan niat baik dan penuh tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.



BACA JUGA :










Mereka bersedia mempertanggungjawabkan hubungan kedua sejoli tersebut agar berakhir dalam ikatan yang sah dan terhormat.

Namun sangat disayangkan, niat baik itu justru mendapat penolakan keras dari orang tua pihak perempuan. Bahkan diduga, penolakan tersebut terjadi karena keluarga Aman dianggap berasal dari kalangan kurang mampu.



Karaeng Tinggi menilai bahwa alasan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi dua insan yang saling mencintai.





“Cinta sejati tidak pernah memandang harta, jabatan, ataupun status sosial. Jika dua hati sudah saling memilih, maka kemiskinan bukan alasan untuk memisahkan mereka.”



Fenomena silariang sendiri bukan hal baru dalam budaya masyarakat. Sejak dahulu, silariang kerap menjadi jalan terakhir bagi pasangan yang cintanya tidak direstui, terutama ketika keluarga lebih mempertimbangkan status sosial daripada kebahagiaan anaknya.



Yang lebih memprihatinkan, dalam kasus ini pihak keluarga perempuan disebut sampai mengeluarkan ancaman kepada orang tua Aman, bahkan kepada seseorang yang dianggap tokoh masyarakat yang sebelumnya datang melamar Bunga secara baik-baik untuk dijodohkan dengan Aman.





Situasi itu membuat keluarga Aman terpaksa bergerak cepat ke Kabupaten Bulukumba untuk menjemput Aman dan Bunga demi menghindari konflik yang lebih besar.

Setelah itu, Bunga diamankan sementara di rumah keluarga Aman, lalu Aman kembali ke rumah orang tuanya dalam keadaan aman tanpa gangguan.



Amiruddin mengingatkan bahwa setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya, namun cinta anak tidak boleh dihakimi hanya karena keadaan ekonomi.

“Orang tua boleh berharap anaknya hidup bahagia, tetapi jangan menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk mematahkan cinta yang tulus. Sebab harta bisa dicari, tetapi cinta yang tulus belum tentu datang dua kali.”



Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa konflik seperti ini seharusnya diselesaikan dengan kepala dingin, musyawarah, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Jangan biarkan amarah memisahkan dua hati yang saling mencintai. Karena cinta sejati bukan tentang siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang tetap bertahan dalam suka dan duka.”




Kisah Aman dan Bunga menjadi pengingat bahwa cinta sejati sering diuji oleh keadaan. Namun sejatinya, cinta yang lahir dari ketulusan akan selalu mencari jalan untuk bertahan.



“Bunga mungkin bisa dipisahkan dari Aman untuk sementara, tetapi cinta yang sudah tertanam di hati mereka tidak akan mudah dipisahkan. Karena cinta sejati bukan soal memiliki, tetapi soal memperjuangkan.”

Semua pihak dapat menahan diri dan membuka ruang damai agar persoalan ini tidak berkembang menjadi konflik sosial di tengah masyarakat



“Restu orang tua adalah doa, tetapi cinta anak adalah takdir. Jika keduanya dipertemukan dengan kebijaksanaan, maka lahirlah kebahagiaan.” tutupnya.


( Mgi/Ridwan )


 
 
 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian*
bottom of page