Filsafat Leluhur Menggema di Tengah Gowa yang Bergejolak, Amiruddin: “Jangan Sampai Gowa Kehilangan Akar”

Filsafat Leluhur Menggema di Tengah Gowa yang Bergejolak, Amiruddin: “Jangan Sampai Gowa Kehilangan Akar”
GOWA — Di tengah berbagai polemik yang mewarnai Kabupaten Gowa, Ketua DPP LSM Gempa Indonesia, Amiruddin SH Karaeng Tinggi, mengajak seluruh elemen masyarakat kembali membuka lembaran kearifan leluhur orang Makassar.
Amiruddin mengangkat sebuah ungkapan filosofis yang diwariskan secara turun-temurun:
“Reppe bayao natena pa’sereanna, tattumpa minnya natena rappunganna, tutuki ma’lepa-lepa ma’biseang rate Bonto Tallangki salla Nana sakkoki limbu’bu.”
Bagi Amiruddin, ungkapan tersebut bukan sekadar rangkaian kata, tetapi dapat dibaca sebagai pesan tentang akar, pegangan, kehormatan, keseimbangan dan arah kehidupan.
“Leluhur orang Makassar telah meninggalkan pesan yang sangat dalam. Jangan sampai kita memiliki kekuasaan tetapi kehilangan pegangan, memiliki jabatan tetapi kehilangan nilai, dan memiliki pemerintahan tetapi kehilangan rasa tanggung jawab kepada masyarakat,” tegas Amiruddin.
Baca Juga Berita Apdate :



Gowa Jangan Kehilangan Akar
Amiruddin mengatakan, Gowa memiliki sejarah dan peradaban yang panjang. Karena itu, setiap persoalan yang terjadi di daerah tersebut semestinya tidak hanya dilihat dari sisi politik dan kekuasaan, tetapi juga dari perspektif moral, budaya dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Menurutnya, falsafah leluhur dapat menjadi cermin bagi siapa pun yang mendapatkan amanah untuk memimpin masyarakat.
“Jabatan itu sementara. Kekuasaan juga sementara. Tetapi sejarah akan mencatat bagaimana seseorang menggunakan amanah yang diberikan kepadanya. Inilah yang harus direnungkan oleh semua pemegang kekuasaan di Gowa,” ujarnya.
Ia menilai berbagai polemik pemerintahan dan persoalan hukum yang berkembang di Gowa seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan justru memperlebar perpecahan masyarakat.

Z
“Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, selesaikan melalui hukum. Kalau ada persoalan pemerintahan, selesaikan melalui mekanisme pemerintahan. Jangan masyarakat yang menjadi korban akibat konflik kepentingan.”
“Peradaban Leluhur Tidak Boleh Dihapus dari Ingatan”

Amiruddin juga menyinggung hubungan antara peradaban leluhur dengan agama.
Ia menegaskan bahwa pernyataan mengenai peradaban leluhur bukan untuk mempertentangkan budaya dengan agama, melainkan untuk mengingatkan bahwa masyarakat memiliki sejarah sosial dan kebudayaan yang telah berkembang jauh sebelum berbagai perubahan sejarah berikutnya.
“Peradaban leluhur adalah bagian dari perjalanan sejarah manusia. Agama adalah bagian lain yang memberikan nilai keimanan dan pedoman kehidupan. Jangan dipertentangkan. Yang harus kita ambil adalah nilai kebaikannya.”
Menurutnya, masyarakat Gowa harus mampu berdiri di atas tiga fondasi penting: sejarah, moral dan hukum.
Sejarah memberikan identitas, moral memberikan arah, sedangkan hukum memberikan batas dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan.
Siri’ Bukan Alat untuk Menekan
Amiruddin menekankan bahwa konsep siri’ dalam budaya Makassar tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk melakukan tindakan emosional atau menyerang pihak lain.

“Siri’ bukan berarti bebas berbuat apa saja atas nama kehormatan. Siri’ justru harus membuat kita malu melakukan ketidakadilan, malu mengkhianati amanah, malu menyalahgunakan kekuasaan dan malu ketika masyarakat kehilangan kepercayaan.”
Ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang dan menyerahkan dugaan pelanggaran hukum kepada aparat penegak hukum untuk dibuktikan melalui proses yang berlaku.
“Kita tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Kita sedang mencari kebenaran. Kalau benar, buktikan. Kalau salah, jangan dipaksakan. Semua harus tunduk pada hukum dan fakta.”
“Gowa Sedang Diuji”
Amiruddin menyebut berbagai persoalan yang muncul di Kabupaten Gowa sebagai ujian terhadap seluruh elemen daerah.
Bukan hanya kepala daerah atau pejabat pemerintahan, tetapi juga DPRD, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat dan masyarakat umum.
“Gowa sedang diuji. Apakah kita akan memilih kegaduhan atau kebenaran, kepentingan kelompok atau kepentingan masyarakat, emosi atau hukum. Leluhur sudah memberikan pesan. Sekarang tinggal kita mau belajar atau tidak dari pesan tersebut.”
Ia kembali mengingatkan ungkapan leluhur orang Makassar sebagai simbol pentingnya menjaga akar kehidupan.
“Jangan sampai Gowa berdiri megah tetapi kehilangan akarnya. Jangan sampai kekuasaan kuat tetapi moralnya rapuh. Dan jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan kepada institusi yang seharusnya menjadi tempat mencari keadilan.”
Amiruddin berharap nilai-nilai budaya Gowa dan Makassar tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi pedoman nyata dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat.
“Kalau kita benar-benar menghormati leluhur, maka yang kita warisi bukan hanya nama besar Gowa, tetapi juga keberanian untuk menjaga kebenaran, kehormatan, keadilan dan kepentingan masyarakat,” pungkasnya.
( Mgi / Ridwan )


















































Komentar