Jembatan Sempit Batas Paitana–Langkura Dipertaruhkan: Keselamatan Warga Menanti Kepekaan Pemerintah
- Ridwan Umar
- 1 jam yang lalu
- 2 menit membaca

Jembatan Sempit Batas Paitana–Langkura Dipertaruhkan: Keselamatan Warga Menanti Kepekaan Pemerintah
JENEPONTO — Di tengah geliat pembangunan dan meningkatnya mobilitas masyarakat, masih terdapat infrastruktur jalan yang seolah luput dari perhatian.
Salah satunya adalah jembatan di kawasan pembagian air yang menjadi akses sekaligus batas wilayah antara Desa Paitana dan Desa Langkura, Kabupaten Jeneponto.
Kondisi jembatan tersebut patut menjadi perhatian serius pemerintah. Bentang badan jembatan yang relatif sempit tidak lagi sebanding dengan volume kendaraan yang melintas setiap hari. Kendaraan roda empat dari dua arah bahkan tidak dapat berpapasan secara bersamaan.
Pengguna jalan terpaksa saling menunggu. Salah satu kendaraan harus berhenti atau mengalah demi memberikan ruang kepada kendaraan dari arah berlawanan.

Situasi seperti ini bukan sekadar persoalan kelancaran lalu lintas, melainkan menyangkut keselamatan manusia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, titik penyempitan tersebut berpotensi menjadi perangkap kecelakaan apabila pengendara tidak mampu mengantisipasi kondisi jalan. Pada jam-jam tertentu ketika arus kendaraan meningkat, antrean dan perlambatan lalu lintas dapat terjadi sehingga memperbesar risiko terjadinya benturan maupun kecelakaan.
Jangan Menunggu Korban Baru Bergerak
Masyarakat tentu tidak ingin pemerintah hadir setelah musibah terjadi. Sebab, prinsip pembangunan infrastruktur seharusnya bukan hanya memperindah wajah daerah, tetapi juga memastikan setiap warga dapat menggunakan fasilitas publik dengan aman, nyaman, dan bermartabat.
Pelebaran jembatan tersebut perlu dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar usulan yang dapat ditunda tanpa kepastian.
Pemerintah Kabupaten Jeneponto bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan dinas teknis terkait diharapkan segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi, mengukur tingkat kelayakan jembatan, mengkaji volume kendaraan serta menyiapkan langkah konkret untuk pelebaran dan pembenahan infrastruktur pendukung.
Masyarakat tidak sedang meminta kemewahan.
Mereka hanya berharap mendapatkan akses jalan yang layak dan aman.

Persoalan jembatan Paitana–Langkura seharusnya menjadi alarm bahwa masih ada infrastruktur yang membutuhkan perhatian nyata. Jangan sampai sebuah jembatan baru mendapatkan perhatian setelah muncul korban jiwa.
Keselamatan rakyat harus ditempatkan di atas segala pertimbangan administratif.
Kini masyarakat menanti bukan sekadar janji, tetapi kehadiran pemerintah di lapangan dan tindakan nyata. Sebab, setiap kendaraan yang melintas membawa manusia, setiap manusia memiliki keluarga yang menunggu kepulangannya, dan setiap potensi kecelakaan adalah risiko yang semestinya dapat dicegah sejak dini.
Pemerintah diharapkan membuka mata, mendengar keluhan masyarakat, dan menjadikan persoalan ini sebagai bagian dari prioritas pembenahan infrastruktur.
Jangan biarkan sempitnya sebuah jembatan menjadi sempit pula perhatian kita terhadap keselamatan rakyat.
( MGi/Guss Mahfuji )


















































Komentar