top of page

Gizi Penting, Tapi Pendidikan Lebih Mendesak!” LSm ini Kritik Keras Kebijakan Prabowo Pangkas Anggaran Pendidikan hingga 20%

  • Gambar penulis: Ridwan Umar
    Ridwan Umar
  • 6 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

"Gizi Penting, Tapi Pendidikan Lebih Mendesak!” LSm ini Kritik Keras Kebijakan Prabowo Pangkas Anggaran Pendidikan hingga 20%



Makassar, Sulsel. -- Kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto kembali menuai reaksi disegala arah! Baik dari Akademisi dan Aktivis Mahasiswa. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan kualitas kesehatan anak justru dinilai mengorbankan sektor yang jauh lebih fundamental: pendidikan.



Wakil Ketua Umum DPP Gempa Indonesia, Ari Paletteri, secara terbuka mengkritik langkah pemangkasan anggaran pendidikan nasional yang disebut mencapai sekitar 20 persen. Menurutnya, kebijakan ini berpotensi menciptakan masalah jangka panjang yang lebih serius dibanding manfaat jangka pendek dari program MBG.





“Tidak ada yang menolak pentingnya gizi bagi anak-anak. Tapi pendidikan adalah fondasi utama masa depan bangsa. Jika anggaran pendidikan dipangkas, kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi Indonesia ke depan,” tegas Ari.



Ia menilai, pemerintah seharusnya tidak menjadikan program MBG sebagai alasan untuk mengurangi porsi anggaran pendidikan. Justru sebaliknya, sektor pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama mengingat masih banyak sekolah di berbagai daerah yang kondisinya jauh dari kata layak.



BACA JUGA :










“Realitas di lapangan masih memprihatinkan. Banyak sekolah rusak, kekurangan fasilitas, hingga minim sarana belajar. Ini fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi. Bagaimana kita mau mencetak generasi unggul jika tempat mereka belajar saja tidak memadai?” lanjutnya.



Ari juga mendesak agar pemerintah segera mengkaji ulang kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa jika MBG memang menjadi program prioritas, maka tidak boleh dilakukan dengan cara mengorbankan sektor pendidikan.



“Silakan jalankan program MBG, tapi jangan sampai menggerus anggaran pendidikan. Justru pendidikan harus lebih diprioritaskan. Ini soal masa depan bangsa, bukan sekadar program populis,” ujarnya.



Lebih lanjut, Ari menekankan pentingnya mengembalikan anggaran pendidikan ke porsi semula agar pembangunan sumber daya manusia Indonesia tidak terhambat. Ia juga mengingatkan bahwa investasi di bidang pendidikan memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih besar dibanding program jangka pendek.





“Kalau hari ini kita salah mengambil keputusan, dampaknya bukan hanya lima atau sepuluh tahun, tapi bisa satu generasi penuh. Pemerintah harus berpikir lebih strategis dan tidak gegabah,” pungkasnya.



Sorotan ini menambah daftar kritik terhadap implementasi program MBG, sekaligus menjadi peringatan keras bahwa kebijakan publik harus tetap berpijak pada kepentingan jangka panjang bangsa, di mana pendidikan seharusnya tidak pernah menjadi korban.



( Mgi / Ridwan )




 
 
bottom of page