KRISIS EKOLOGI DAN DEGRADASI MORAL: Menagih Keberagamaan Kita di Tengah Tumpukan Sampah Sungai Kelara
- Ridwan Umar
- 39 menit yang lalu
- 2 menit membaca

KRISIS EKOLOGI DAN DEGRADASI MORAL: Menagih Keberagamaan Kita di Tengah Tumpukan Sampah Sungai Kelara
Jeneponto — Pemandangan memprihatinkan kembali menghiasi saluran drainase dan aliran irigasi di sepanjang wilayah pemukiman sekitar Sungai Kelara. Tumpukan sampah plastik, limbah rumah tangga, hingga material anorganik tampak menyumbat alur air yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jeneponto.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan estetika lingkungan yang terganggu, melainkan sebuah gambaran nyata dari ironi peradaban: ketimpangan antara nilai-nilai keagamaan yang dianut dengan realitas perilaku ekologis masyarakat sehari-hari.

Dilema Intelektual: Kegagalan Nalar Ekologis Masyarakat
Secara intelektual, kebiasaan membuang sampah ke aliran drainase pemukiman mencerminkan rendahnya ecological literacy. Drainase yang sejatinya dirancang sebagai sistem pengendali limpasan air hujan kini beralih fungsi menjadi "tempat pembuangan akhir" informal.
Secara ilmiah dan teknis, tindakan ini menimbulkan dampak berantai:
Pencemaran Air & Tanah: Pendangkalan serta pencemaran zat toksik yang merusak ekosistem perairan lokal.
Ancaman Kesehatan Publik: Menjadi sarang vektor penyakit seperti demam berdarah, kolera, dan penyakit kulit bagi warga sekitar.
Potensi : Penyumbatan saluran irigasi yang berisiko memicu kering nya air hingga persawahan sebagian besar tdk teraliri air di musim kemarau
Menimpakan seluruh kesalahan kepada pemerintah tentu kurang adil jika di tingkat akar rumput, kesadaran mendasar untuk memilah dan membuang sampah pada tempatnya
Namun, realitas di sekeliling Sungai Kelara justru memperlihatkan paradoks:
"Kerusakan di darat dan di laut adalah hasil dari perbuatan tangan manusia sendiri."
Membuang sampah ke sungai dan drainase dekat pemukiman pada hakikatnya adalah bentuk tindakan zalim—baik terhadap lingkungan maupun terhadap tetangga dan generasi mendatang yang berhak mendapatkan lingkungan bersih dan sehat. Ibadah ritual yang tekun menjadi tidak berimbang apabila diiringi dengan perilaku destruktif terhadap alam ciptaan-Nya.

Menagih Ketegasan dan Aksi Nyata
Krisis di Sungai Kelara membutuhkan penanganan komprehensif dari dua sisi:
Kesadaran Kolektif Warga: Mengubah pola pikir bahwa sungai dan drainase bukanlah tong sampah raksasa.
Kesadaran lingkungan harus dimulai dari dapur dan pekarangan rumah masing-masing. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya memberikan imbauan pasif, melainkan menghadirkan penegakan hukum yang tegas serta penyediaan fasilitas pengolahan sampah yang memadai hingga ke tingkat RT/RW.
Sungai Kelara adalah sumber kehidupan, bukan wadah limbah. Menjaga kelestariannya adalah ujian nyata atas kualitas intelektual dan kedalaman iman masyarakat Jeneponto. Jangan menunggu bencana dan penyakit datang menyapa baru kita tersadar
( MGI / Guss Mmahfuji )


















































Komentar