top of page

Kepala Bagian Kurikulum SMA Negeri 22 Gowa Bersikap Tidak Sopan, dan Arogan di Hadapan Awak Media, Wartawan, dan Pegiat Sosial.

  • Gambar penulis: Ridwan Umar
    Ridwan Umar
  • 22 Mei 2025
  • 2 menit membaca

Kepala Bagian Kurikulum SMA Negeri 22 Gowa Bersikap Tidak Sopan, dan Arogan di Hadapan Awak Media, Wartawan, dan Pegiat Sosial.




Gowa, — Insiden kurang menyenangkan terjadi saat Kepala bagian kurikulum menemui wartawan dan perwakilan dari DPP LSM Gempa Indonesia yang mencoba mengkonfirmasi kabar terkait dugaan diskrimnasi terhadap Guru Agama PPPK bernama Nurul fahrani.

Kamis, 22 Mei 2025



Kepala sekolah yang tidak ada ditempat yang diharapkan bisa menerima guru PPPK untuk mengajar kembali di sekolah yang beliau pimpin sekaligus memberikan klarifikasi, terhadap Dugaan Intimadasi dan Diskriminasi terhadap Ibu Nurul fahrani yang mengajar bidang studi pendidikan agama.




Kepala bagian kurikulum bernama pak Kadir yang menemui kami justru menunjukkan sikap yang dinilai tidak sopan, dengan berkata kalo mau bicara cukup disini saja di koridor sekolah, ucapnya.



Wartawan Media Gempa Indonesia, dan salah satu aktivis perempuan LSM Gempa Indonesia Gowa, datang ke sekolah tersebut pada kamis (22/5/2025) untuk meminta keterangan resmi, sekaligus mengantarkan surat dari dokter terkait, yang menyatakan bahwa kesehatan dan kondisi Bu Nurul itu Normal, Namun kepala bagian Kurikulum sekolah justru beberapa kali menggebrak meja piket, lalu mengatakan kalo Ibu Nurul Fahrani tidak suka dengan keadaan dan lingkungan sekolah tidak usah mengajar disini, sungguh perlakuan yang tidak wajar dari pendidik.




Hal ini dinilai oleh Pengurus DPP LSM Gempa Indonesia ( Zainal Munirang, SH ) sikap yang terlalu arogan, sudah menerima kami hanya dikoridor sekolah, gebrak gebrak meja pula, ibu Nurul inikan penempatannya di sekolah ini, dan berhak mengajar disini, Tegasnya.



Zainal Munirang SH, Anggota DPP LSM Gempa Indonesia sangat menyayangkan hal ini, Kepala bagian kurikulum yang seharusnya jadi panutan buat para murid dan para guru, justru menunjukkan sikap arogansinya. Dengan sikap seperti itu, DPP LSM Gempa Indonesia mempertanyakan kelayakannya memimpin bagian kurikulum, buatnya adab lebih tinggi dari pada ilmu "ujarnya.


Salah satu aktivis perempuan DPP LSM Gempa Indonesia bernama Etika Ragil Sari juga ikut menyampaikan kekecewaannya terhadap kepala kurikulum SMN 22 tersebut.


“Kami datang dengan niat baik untuk mengantarkan Ibu Nurul dengan surat kesehatan dari dokter terkait, sekaligus mengklarifikasi dugaan intimidasi dan diskriminasi terhadap Ibu Nurul Fahrani, Tapi yang kami dapat justru perlakuan tidak sopan,” ujarnya.



Hingga berita ini diturunkan, belum ada permintaan maaf resmi dari pihak sekolah. Wartawan dan masyarakat kini menunggu sikap tegas dari Dinas Pendidikan Prov. Sulsel atas insiden yang dianggap mencoreng citra lembaga pendidikan tersebut.



( Mgi/Ridwan U )

 
 
bottom of page